PANCASILA DAN RETHINGKING NASIONALISME

PANCASILA DAN RETHINGKING NASIONALISME 

Dr. Ali Masykur Musa

 

Sepanjang bulan Juni bangsa ini semestinya diingatkan kembali kepada karya besar para pendiri bangsa: Pancasila. Dengan Pancasila, persatuan dan kesatuan yang sepertinya mustahil dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara nyatanya telah eksis semenjak puluhan tahun lalu, meski masih banyak tantangan disintegrasi yang musti dihadapi. Titik temu pelbagai keanekaragaman karakter itu sesungguhnya bermuara pada Pancasila.

Selengkapnya...
 
Pers Release
Thursday, 30 July 2009
Institute for Democracy and Legal Empowerment [IDEAL] mengeluarkan Press Release tentang kekerasan yang dilakukan oleh polisi.
...

Selengkapnya...
SPINNING JENNY, BAND PILIHAN LA LIGHTS CAMPUS EDUTAINMENT
Saturday, 16 May 2009

Spinning Jenny, grup band dari Fakultas Hukum Universitas Jember menjadi yang terbaik menyisihkan grup band lainnya dalam ajang LA Lights Campus Ed...

Selengkapnya...

RENI INDRAYANI, MAHASISWA BERPRESTASI UNIVERSITAS JEMBER TAHUN 2009
Saturday, 16 May 2009

Setelah bersaing dalam seleksi yang ketat dengan 13 peserta lainnya di ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tahun 2009, akhirnya Reni I...

Selengkapnya...

KPK Masuk Fakultas Ekonomi Unej
Saturday, 16 May 2009

JEMBER Radar Jember - Komisi Pemberantasan Korupsi ...

Selengkapnya...

BTC-JRC: Menjembatani PT ROMINDO DAN UNIVERSITAS JEMBER
Saturday, 16 May 2009

Pada hari Jumat, 8 Mei 2009, Business Technology Center - Jababeka Research Center (BTC-JRC) dan BTC-Network mempertemukan PT. Romindo Primavetcom ...

Selengkapnya...

DITUNGGU, PEMIMPIN YANG MAU MEMBENAHI POLRI
Tuesday, 16 June 2009

DITUNGGU, PEMIMPIN YANG MAU MEMBENAHI POLRI

(Harapan Dan Keluhan Tentang Perilaku Polisi)

Selengkapnya...

Pembangunan fasilitas kesehatan non pemerintah tak lekang oleh krisis
Wednesday, 06 May 2009

Pembangunan sarana kesehatan selama satu tahun ke depan tak lekang oleh terpaan krisis ekonomi global yang juga mampir ke Indonesia. Dalam 12 bulan...

Selengkapnya...

Pesona Pasar Konstruksi Bali di Tengah Badai Krisis Ekonomi
Sunday, 03 May 2009

Oleh: Dian Putra  

 

Industri pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian Bali tidak luput d...

Selengkapnya...

WOC, Deklarasi Kelautan dan Optimalisasi Ekonomi
Tuesday, 03 February 2009

World Ocean Conference 2009Selengkapnya...

SANKSI SOSIAL DAN BUDAYA BAGI KORUPTOR
Saturday, 06 December 2008
Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan beberapa pengamat hukum yang intens terhadap perkara korupsi bahwa pemberian baju tahanan khusus bagi p...

Selengkapnya...
LBH Alumni FH Unej
Monday, 15 December 2008
http://perkani.socialgo.com/home.html Ternyata sudah ada LBH Alumni FH Unej SIlahkan lihat link di atas Arifien...

Selengkapnya...
Berita Duka
Thursday, 04 December 2008
Telah meninggal dunia sahabat kita Sdri Bijaksana - alumni FISIP/ ADNI angkatan 79 Di RS Triadipa - Pancoran jam 3.15 Jenasah akan dibawa ke Pameka...

Selengkapnya...
Bijaksana alumni Fisip/ ADNI 79 sdg Koma
Thursday, 04 December 2008
Rekan2, sahabat kita Bijaksana alumni Fisip/ Adni - angkatan 1979 - , asal Pamekasan sedang koma di RS Triadipa - Pancoran km 308. Mohon doa dari se...

Selengkapnya...
Ketemu Alumni
Wednesday, 12 November 2008
sy ketemu alumni Faperta di Jambi, jd kasubdin kehutanan Kab Tajung Jabung Barat asal lengkong Jember Namanya Slamet Aprilyanto 08127409946 dari jur...

Selengkapnya...
Facebook Alumni Uned
Friday, 17 October 2008
http://www.facebook.com/group.php?gid=12334986132...

Selengkapnya...
KARAKTER SANG PRESIDEN *)
Ditulis oleh Administrator, Monday, 04 May 2009 08:16
Rating    (0 vote)
Dibaca 538
KARAKTER SANG PRESIDEN *)
Dr. Ali Masykur Musa **)


Helat pemilihan anggota legislatif baru saja usai. Kini semua elemen bangsa bersiap menyambut pesta susulan, yaitu pemilihan presiden-wapres (pilpres) pada 8 Juli mendatang. Ada banyak nama bermunculan. Paling tidak, tercatat tujuh kandidat utama yang belakangan ini menjadi sorotan media yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto, Jusuf Kala (JK), Sri Sultan Hamengkubuwono (HB X) dan Wiranto.

 

Memilih presiden berarti memilih sosok pemimpin, yang selama lima tahun ke depan didaulat memegang komando kekuasaan pemerintahan. Karena itu, rakyat tidak boleh salah pilih. Lantas siapapun presidennya, ia harus benar-benar memahami dirinya sebagai ulil amri dan sekaligus khalifah fil ardhi yang secara konseptual maupun praktis mempunyai tanggungjawab besar terhadap jalannya pemerintahan.


Penulis teringat sebuah nasehat sufistis (mahfudhah) menyebutkan demikian, idza wusshida al amru ilaa ghairi ahlihi fa intadhir ash sa’ah (apabila sebuah tampuk kekuasaan dimandatkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya).

 

Dalam konteks ini, rakyat pemilih musti benar-benar jeli, hati-hati dan kritis dalam memilih capres-cawapresnya. Jangan sampai yang terpilih ternyata orang yang bukan ahlinya. Karena cepat atau pun lambat akan menyebabkan kerusakan bagi negeri tercinta ini.
Karena itu, kita semua musti mempunyai standar sejauhmana pemimpin kita mempunyai karakter yang mumpuni, amanah, adil dan cakap dalam menjalankan tugas pemerintahan. Seperti yang diungkap Daniel Goleman dalam leadership style theory bahwa Pemimpin yang terbaik tidak hanya mengetahui satu gaya kepemimpinan, melainkan kemampuan atas beberapa gaya dan fleksibel untuk mengadopsi gaya yang sesuai dengan kondisi yang ada. Pemimpin ideal adalah yang dapat menguasai seluruh ilmu gaya kepemimpinan dan mampu menggunakannya pada saat yang tepat dengan memperhitungkan lingkungan dan situasi yang ada.

Sebuah Kriteria


Di titik inilah pentingnya mencari seorang pemimpin negara yang sungguh-sungguh melaksanakan mandat kepemimpinannya atas ekonomi, sosial, kultur dan politik. Pemimpin suatu negara bukan hanya bertanggungjawab untuk membangun perekonomian negara tetapi harus dapat mengemban misi sosial dan kultur negara dengan memastikan iklim politik yang kondusif dan stabil.


Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian, tingkat kesejahteraan, politik dan sosial budaya Indonesia, pemimpin yang ideal harus memiliki berbagai karakter yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Paling tidak, terdapat empat kriteria karakter yang dapat dijadikan basis nilai bagi masyarakat untuk menentukan presidennya.


Pertama,
integrated multiple intelligence. Ia adalah seorang yang memiliki tingkat kecerdasan (intelligence), pengalaman (experience), dan intuisi (intuition) yang memadai secara terintegral. Tingkat kecerdasan pemimpin berasal dari suatu proses pembelajaran (learning process) yang terintegrasi sehingga pemimpin tersebut bukan hanya memiliki kemampuan pada sautu bidang saja tetapi juga memiliki kapasitas untuk dapat berpikir secara sistematis dan mampu melakukan penyesuaian (adaptability) terhadap lingkungan guna menyelesaikan permasalahan dengan singkat dan sustainable. Tingkat kecerdasan ini tentunya juga memerlukan suatu tingkat pendidikan formal yang dapat menunjang pemikiran yang sistematis. Dalam konsep imamah, karakter ini jauh hari telah diteladankan oleh oleh sang Rasul yang biasa disebut fathanah.


Fathanah musti melibatkan pengalaman sebagai faktor pentingnya. Seorang pemimpin harus memiliki pengalaman yang intensif dan merupakan suatu hasil learning process yang terkait dengan managing people, system dan skill. Pengalaman yang intensif dan tingkat kecerdasan yang tinggi dapat membuahkan suatu intuition yang lebih tepat dan benar. Intuition yang benar dan tepat akan sangat berguna dalam berbagai kasus tertentu.

 

Kadangkala seorang pemimpin akan dihadapkan oleh berbagai informasi maupun fakta yang masih kurang memadai dari segi kecukupan bahan maupun tingkat kredibilitasnya (akurasinya) yang lebih rendah, tetapi harus mengambil keputusan yang cepat dna tepat. Pada saat itulah, tingkat intuition memiliki peranan penting karena tidak adanya informasi yang cukup sehingga secara logis dapat diperdebatkan (subject to debate).


Kedua, integrity. Dalam konteks imamah, konsep ini biasa disebut amanah. Ke-amanah-an seorang pemimpin bukan hanya sebatas memiliki kejujuran, tidak melanggar hukum, mematuhi kode etik dan moral tetapi harus dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang benar-benar dipercayai dan secara konsisten melakukan apa yang dikatakan (do what you say) kendatipun hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang dianggap populer bagi berbagai pihak namun dilakukan dengan acting in good faith (amanah).


Integritas seorang pemimpin negara sangat penting karena pemimpin tersebut harus dapat memimpin negara dengan memperhatikan cara yang paling efektif, yaitu al amru bi al mitsal (leading by examples). Ini merupakan cara yang sangat efektif untuk memberikan contoh yang baik untuk menjunjung tingkat integritas kepada rakyatnya. Pemimpin yang ideal harus dapat memberikan contoh atas integritas yang tinggi terhadap pengikutnya karena perilaku karakter tersebut harus dimulai dari puncak kepemimpinan tertinggi sehingga dapat dituruti oleh yang lainnya.


Ketiga, charismaticsm. Pada dasarnya pemimpin yang memiliki charismaticsm (karisma) adalah pemimpin yang dapat menginspirasi dan memotivasi pengikutnya secara emosional dan intelektual. Karisma ini dapat terjadi melalui communication skill (kemampuan berkomunikasi) yang convincing (meyakinkan) dan body language yang baik serta tindakan yang decisiveness (tegas) dimana hal ini biasanya terlihat dari berbagai pembawaan pidato dan interaksinya terhadap publik. Munculnya segala kemampuan itu disebabkan oleh figur pemimpin yang mempunyai dominasi spiritual power (haqiqatu al iman), karena tendensi dan orientasinya hanya untuk beribadah (‘abdun).


Keempat, heroistic leadership. Pemimpin yang dimaksud disini adalah pemimpin yang memiliki jiwa kepahlawanan. Pemimpin tersebut harus secara sungguh-sungguh rela berkorban dan berani memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Bahkan pengorbanan ini dapat diartikan sebagai paying the ultimate price yaitu berani mati sebagai bentuk dari implementasi nasionalisme (hubbul wathan). Mengingat bangsa kita mengalami banyak permasalahan seperti pemberantasan korupsi yang kadang terkesan tebang pilih, kesejahteraan, sosial, dan perekonomian, maka diperlukan pemimpin yang mampu dan berani untuk melakukan terobosan dan mempertahankan visi yang murni dan besar untuk menegakkan hukum untuk memberantas korupsi secara material dan tuntas tanpa tanggung-tanggung serta mengedepankan kepentingan rakyat bersama.


Jiwa kepahlawanan seorang pemimpin harus diimbangi oleh tingkat integrated multiple intelligence yang memadai dan moral yang tinggi. Kalau hanya memiliki jiwa kepahlawanan dan tidak ada tingkat kecerdasan (termasuk logika dan pemikiran sistematis) yang memadai dan moral yang baik, pemimpin itu bisa memperjuangkan hal yang salah (fighting the wrong cause) karena merasa melakukan tindakan yang terbaik bagi bangsanya atau pengikutnya. Hal ini dapat menyebabkan kehancuran bagi pengikutnya dan juga ke orang lain.


Dari keempat kriteria tersebut, lantas siapakah yang paling cocok menjadi presiden? Tentu rakyatlah yang berhak menilai dan menentukan dengan memperhatikan kaidah “tashorruf al imam ‘alaa roiyyah manuutun bi al maslahah”, bahwa kebijakan Presiden terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan. Agar tidak salah pilih, semua komponen bangsa ini musti mempunyai rasionalisasi dan dasar penilaian sendiri. Jangan sampai mengalami kekecewaan setelah memilih kandidatnya. Karena masa depan negeri ini bergantung pada pilihan anda!

 

*)   Republika, 12 April 2009

**) Penulis adalah anggota FKB DPR dan Ketua Umum Alumni  Universitas Jember

Quote this article in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us

Komentar ()

Belum ada komentar

Beri Komentar



mXcomment 1.0.5 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Login KAUJE






Kata Sandi hilang?

Alumni Terbaru

Highslide JS Highslide JS

Donasi Web

2300919378
an. Khoiril Anwar
121-00-0465046- 5
an. Khoiril Anwar
Laporan & Donatur

Pengunjung Online

Total: 3
Alumni: 0 / Tamu: 3
No members online

Shout It!



Login dulu untuk chat!
Daftar dulu di sini!